Agama bisa menjadi cahaya yang membebaskan, tetapi dalam tatanan yang timpang ia sering dijadikan alat pereda bukan perubahan. Di titik inilah gagasan Tan Malaka langsung bertemu dengan kritik Marx: agama dapat berubah menjadi opium, bukan karena ia salah, tetapi karena ia dipakai untuk menenangkan mereka yang paling terluka tanpa pernah menyentuh akar lukanya.
Ketika kemiskinan diberi label “cobaan”, ketika ketidakadilan dianggap “takdir”, dan ketika kesabaran dipuji lebih tinggi daripada keberanian menuntut hak, maka sistem yang timpang tetap aman. Yang tertindas belajar menerima, sementara mereka yang berkuasa belajar mempertahankan.
Marx mengingatkan bahwa manusia butuh harapan, tetapi harapan yang memabukkan akan membuat mereka lupa bahwa dunia bisa diubah.
Ketika kemiskinan diberi label “cobaan”, ketika ketidakadilan dianggap “takdir”, dan ketika kesabaran dipuji lebih tinggi daripada keberanian menuntut hak, maka sistem yang timpang tetap aman. Yang tertindas belajar menerima, sementara mereka yang berkuasa belajar mempertahankan.
Marx mengingatkan bahwa manusia butuh harapan, tetapi harapan yang memabukkan akan membuat mereka lupa bahwa dunia bisa diubah.
3 bulan yang lalu